Di balik pesatnya industrialisasi dan gemerlap pusat perbelanjaan di Kota Bekasi, tersimpan sebuah oase budaya yang masih terjaga keasliannya, yakni Kampung Adat Kranggan. Terletak di wilayah Jatisampurna, kampung ini menjadi bukti bahwa masyarakat asli Bekasi, khususnya etnis Sunda yang menetap di wilayah perbatasan, masih memegang teguh tradisi leluhur di tengah arus modernisasi. Mengunjungi Kranggan bukan sekadar wisata, melainkan sebuah perjalanan untuk memahami filosofi hidup masyarakat yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dan nilai-nilai spiritual.
Salah satu hal yang membuat Kampung Adat Kranggan istimewa adalah ketahanan komunitasnya dalam menjaga tatanan rumah adat dan aturan-aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Rumah-rumah di sini masih mempertahankan arsitektur tradisional yang sederhana namun sarat makna. Masyarakat Kranggan sangat menjunjung konsep “Tri Tangtu”, sebuah filosofi yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Hal ini terlihat nyata dari cara mereka mengelola pekarangan dan hutan adat yang tetap hijau meski dikelilingi oleh pemukiman modern.
Tradisi adat seperti upacara “Bumi Alit” menjadi momen penting bagi masyarakat di sini. Upacara ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi rasa syukur atas hasil bumi dan doa untuk kelestarian lingkungan. Bagi wisatawan, mengamati upacara ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Sunda di Bekasi mengintegrasikan keyakinan Islam dengan kearifan lokal yang sudah ada sejak sebelum era modern. Kehidupan sehari-hari masyarakat Kranggan pun masih sangat kental dengan gotong royong, di mana setiap masalah diselesaikan melalui musyawarah yang dipimpin oleh tetua adat.
Kini, Kampung Adat Kranggan mulai membuka diri sebagai destinasi wisata budaya berbasis komunitas. Wisatawan dapat belajar langsung tentang kerajinan tangan, bercocok tanam dengan metode tradisional, atau sekadar berbincang dengan warga untuk memahami sejarah panjang mereka. Keberadaan kampung ini menjadi sangat krusial bagi generasi muda Bekasi agar mereka tidak kehilangan jati diri di tengah pesatnya perkembangan kota. Dukungan pemerintah dan masyarakat untuk menjaga eksistensi Kranggan adalah bentuk nyata dari pelestarian warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Sebagai penutup, Kampung Adat Kranggan adalah pengingat bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan akar budaya. Keunikan cara hidup masyarakat di sana mengajarkan kita tentang arti kesederhanaan dan ketangguhan. Mari kita dukung upaya pelestarian kampung ini dengan berkunjung secara hormat, mempelajari budayanya, dan membantu menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga “warisan tersembunyi” di tengah kota Bekasi yang metropolitan ini.
