Ancaman serangan hama pada komoditas pertanian merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani Indonesia. Untuk mengatasi kerugian hasil panen yang signifikan tanpa bergantung sepenuhnya pada pestisida kimia, bioteknologi menawarkan solusi inovatif dan berkelanjutan, khususnya dalam Pengendalian Hama. Salah satu contoh paling menonjol dari penerapan teknologi ini adalah penggunaan teknik serangga mandul (Sterile Insect Technique atau SIT) yang melibatkan radiasi nuklir, yang baru-baru ini diujicobakan secara spesifik untuk mengatasi masalah serangan Lalat Buah Salak (Bactrocera umbrosa) yang meresahkan petani salak di berbagai sentra produksi. Pendekatan ini merupakan pergeseran strategis dari metode konvensional ke metode yang lebih ramah lingkungan dan spesifik sasaran.

Penerapan teknik SIT dalam Pengendalian Hama melibatkan proses pembiakan massal lalat jantan di laboratorium, yang kemudian disterilkan menggunakan dosis radiasi Gamma tertentu dari fasilitas reaktor nuklir. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), memegang peran sentral dalam penelitian ini. Berdasarkan data teknis yang dirilis oleh PAIR pada bulan Mei 2025, dosis radiasi sekitar 80–100 Gray (Gy) terbukti efektif membuat lalat jantan steril tanpa mengurangi daya saing mereka untuk kawin di alam liar. Lalat jantan mandul ini kemudian dilepaskan dalam jumlah besar ke area perkebunan salak. Ketika lalat jantan mandul kawin dengan betina liar, telur yang dihasilkan tidak menetas, secara bertahap mengurangi populasi hama tanpa meninggalkan residu kimia berbahaya pada buah salak.

Proyek uji coba skala besar SIT untuk Lalat Buah Salak ini telah dilaksanakan di sentra produksi salak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada periode Agustus hingga Oktober 2025, petugas penyuluh pertanian setempat bekerja sama dengan ahli nuklir melepaskan rata-rata 50.000 lalat jantan steril per minggu di area perkebunan seluas 50 hektare. Pengendalian Hama dengan metode ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pertanian setempat pada akhir Oktober 2025 menunjukkan penurunan tingkat kerusakan buah salak akibat serangan lalat dari rata-rata 15% menjadi di bawah 5%. Keberhasilan ini menyoroti potensi bioteknologi dalam menjaga kualitas produk pertanian.

Meskipun membutuhkan investasi awal yang besar dalam infrastruktur, penggunaan teknologi nuklir untuk Pengendalian Hama menjanjikan solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Selain menguntungkan petani salak, teknik ini dapat direplikasi untuk mengendalikan hama pada komoditas buah-buahan dan sayuran lainnya. Integrasi bioteknologi ini ke dalam sistem Integrated Pest Management (IPM) menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global, sejalan dengan tuntutan konsumen akan produk yang bebas residu pestisida kimia.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org