Dampak bencana alam, terutama gempa dahsyat, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik berupa bangunan roboh, tetapi juga luka mendalam pada kondisi mental dan emosional korban, terutama anak-anak. Anak-anak, dengan keterbatasan kemampuan mereka untuk memahami dan memproses peristiwa traumatis, sangat rentan terhadap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan kecemasan berkepanjangan. Oleh karena itu, langkah yang paling krusial dan mendesak pasca bencana adalah fokus pada Pemulihan Psikologis bagi kelompok rentan ini. Program Pemulihan Psikologis yang terstruktur, cepat, dan sensitif budaya adalah kunci untuk memastikan mereka dapat kembali menjalani kehidupan normal dan melanjutkan perkembangan mereka tanpa dibayangi rasa takut.

Anak-anak korban gempa sering menunjukkan gejala trauma yang berbeda dari orang dewasa. Mereka mungkin mengalami regresi (kembali ke perilaku masa kecil seperti mengompol atau mengisap jari), kesulitan tidur, mimpi buruk, atau penolakan untuk berpisah dari orang tua. Mengingat kondisi ini, intervensi dini sangat diperlukan. Sebagai contoh, pasca gempa yang melanda wilayah Jakbar pada tanggal 26 Agustus 2024, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dari 500 anak yang mengungsi, 60% menunjukkan gejala trauma ringan hingga sedang dalam dua minggu pertama. Respon cepat dari tim Psychological First Aid (PFA) menjadi prioritas utama untuk mencegah trauma berkembang menjadi kondisi klinis yang lebih parah.

Strategi utama dalam Pemulihan Psikologis anak-anak adalah melalui kegiatan Psychosocial Support (Dukungan Psikososial) yang dikemas dalam bentuk bermain. Anak-anak belajar dan berkomunikasi melalui permainan. Di posko pengungsian di lapangan terbuka Kabupaten ABC, setiap hari dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, didirikan ‘Ruang Ramah Anak’ yang diisi dengan kegiatan mewarnai, mendongeng, dan bermain kelompok yang dipandu oleh relawan psikolog dan guru. Permainan ini bertujuan membantu anak mengekspresikan emosi mereka secara tidak langsung dan mengembalikan rasa aman (sense of security) dan rutinitas yang hilang. Pihak relawan juga bekerja sama dengan aparat kepolisian sektor setempat untuk memastikan keamanan area bermain anak-anak.

Selain bermain, peran orang tua dan guru yang menjadi pendamping terdekat adalah vital dalam proses Pemulihan Psikologis. Mereka perlu dilatih untuk mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan anak, dan memberikan kenyamanan fisik. Pada tanggal 10 September 2024, sekelompok psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menggelar pelatihan singkat selama satu hari bagi 50 orang tua dan relawan di lokasi pengungsian, fokus pada teknik grounding dan komunikasi suportif. Dengan adanya dukungan yang terintegrasi antara psikolog, relawan, dan keluarga, anak-anak korban bencana dapat dipastikan mendapatkan dukungan yang menyeluruh, memungkinkan mereka melewati masa sulit ini dan kembali membangun masa depan mereka dengan optimisme.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org