Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, dengan kasus yang cenderung melonjak setiap musim penghujan. Kabar baik datang dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang telah memberikan izin edar pada Vaksin Dengue generasi terbaru, yaitu vaksin tetravalen rekombinan, pada tanggal 6 September 2024. Persetujuan ini membuka harapan baru dalam upaya pencegahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini. Efektivitas dan cakupan perlindungan Vaksin Dengue menjadi pertanyaan utama bagi masyarakat, terutama mengenai sejauh mana ia mampu melindungi kelompok usia anak-anak dan dewasa dari keempat serotipe virus (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4).

Vaksin ini dirancang untuk memberikan perlindungan yang luas bagi individu berusia 6 hingga 45 tahun. Berdasarkan data uji klinis fase III global yang melibatkan lebih dari 20.000 partisipan di 13 negara, termasuk Indonesia, efikasi keseluruhan Vaksin Dengue ini tercatat mencapai 80,2% dalam mencegah kasus DBD bergejala. Angka efikasi ini signifikan, terutama jika dibandingkan dengan metode pencegahan tradisional yang hanya mengandalkan pengendalian populasi nyamuk. Dr. Rita Hapsari, seorang spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Yogyakarta, dalam konferensi pers virtual pada 15 September 2024, menjelaskan bahwa efikasi vaksin terhadap kasus dengue yang memerlukan rawat inap bahkan mencapai 90,4%. Hal ini menunjukkan bahwa peran utamanya adalah mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang parah dan mengancam jiwa.

Protokol pemberian Vaksin Dengue ini cukup sederhana, yaitu diberikan dalam dua dosis dengan interval tiga bulan. Keputusan BPOM untuk menyetujui penggunaannya pada rentang usia yang luas—dari anak prasekolah hingga dewasa—menjadi terobosan penting. Sebelumnya, beberapa jenis vaksin dengue memerlukan skrining riwayat infeksi, namun vaksin terbaru ini tidak memiliki batasan tersebut, menjadikannya lebih mudah diimplementasikan dalam program imunisasi massal. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa rata-rata kasus DBD di Indonesia per tahun mencapai angka 100.000 lebih, dengan kelompok usia SMP (10-14 tahun) dan dewasa muda (20-30 tahun) sebagai kelompok yang paling banyak terpapar. Dengan adanya Vaksin Dengue yang efektif dan mudah diakses ini, angka morbiditas dan mortalitas DBD diharapkan dapat diturunkan secara drastis dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Penting untuk dipahami bahwa meskipun efektivitas vaksin tinggi, tindakan pencegahan lainnya seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tetap harus dilaksanakan. Vaksin Dengue adalah alat pelengkap, bukan pengganti, dari upaya 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, dan mencegah gigitan). Dengan izin edar yang telah ditetapkan BPOM, distribusi vaksin ini dijadwalkan akan dimulai secara bertahap di klinik dan rumah sakit swasta mulai bulan November 2024. Edukasi publik yang masif tentang manfaat dan jadwal vaksinasi menjadi kunci sukses implementasi program ini di tingkat nasional, memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat dari ancaman penyakit dengue yang mematikan.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org